Jembatan Penghubung Kalibawang-Purworejo Nyaris Putus
Kulonprogo, CyberNews. Jembatan penghubung tiga wilayah di Kecamatan Kalibawang nyaris ambrol. Pondasi jembatan di Dusun Degan II, Desa Banjararum, Kalibawang itu longsor dan badan jembatan retak setelah terguyur hujan sangat deras.
Jembatan di atas Sungai Plenggong itu menghubungkan Dusun Kemesu dan Dusun Degan II di Desa Banjararum. Ruas jalan itu merupakan jalan vital karena menjadi jalan alternatif yang menghubungkan Kecamatan Kalibawang dengan Kecamatan Girimulyo dan wilayah Kabupaten Purworejo.
“Kalau tidak lewat sini harus memutar sekitar 5 km, itu pun medannya terlalu menanjak,” kata Petugas Babinsa Kecamatan Kalibawang, Sertu Riyanta (37),Senin (4/4).
Salah satu warga, Joko Budi Haryatno (40) mengatakan, longsornya pondasi salah satu sisi jembatan itu terjadi pada Minggu (3/4) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Pondasi longsor setelah hujan deras mengguyur wilayah itu. Akibatnya parit tidak muat menampung air yang terkumpul dari arah desa sehingga meluber melewati jembatan dan masuk ke pori-pori pondasi.
Pondasi yang ambrol itu sepanjang 10 meter dengan ketinggian 5 meter. Badan jalan di sisi jembatan selebar 4 meter tinggal tersisa dua meter. Selain itu badan jalan di jembatan juga mengalami retak memanjang.
“Begitu terjadi longsor itu saya bersama pemerintah desa langsung melaporkan ke pemerintah kabupaten,” ujar Riyanta.
Akibat ambrol itu, jembatan itu tidak bisa dilewati kendaraan roda empat bermuatan berat. Mengantisipasi agar tidak membahayakan pengguna jalan, warga memasang papan peringatan di persimpangan kedua ujung jembatan.
“Kami memasang peringatan, kendaraan roda empat dilarang lewat. Kalau ada yang melanggar ya resiko ditanggung sendiri,” tegasnya.
Atas kerusakan pondasi yang mengancam ambrolnya jembatan itu warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan. Sebab jalan itu merupakan satu-satunya jalan bagi warga sehingga sangat vital untuk menunjang aktivitas perekonomian maupun pendidikan anak sekolah.
Banjir Lahar, Ratusan Warga Mengungsi
20 03 2011 MAGELANG- Hujan deras yang mengguyur puncak Gunung Merapi sejak pukul 16.00 hingga malam kembali mengakibatkan banjir lahar dingin di sejumlah sungai yang berhulu di Merapi.
Di antaranya, Kali Opak, Kali Boyong, Sungai Code, Sungai Winongo, Kali Mambu, Kali Gajahwong, dan Kali Putih.
Akibatnya, ratusan warga Kecamatan Salam dan Kecamatan Ngluwar,
Kabupaten Magelang yang berada di bantaran Kali Puti dan warga di bantaran Sungai Code terpaksa mengungsi. Tanggul Kali Putih di Desa Sirahan dan Desa Seloboro jebol akibat diterjang lahar dingin. Luapan air dan material lahar dingin masuk ke rumah mereka yang berada di sepanjang bantaran Kali Putih.
Yunan Fanani (52), perangkat Desa Seloboro mengatakan, sebanyak 118 jiwa dari 36 keluarga di Desa Seloboro terpaksa diungsikan ke SD Negeri Seloboro 1, Kecamatan Salam. ”Dua jembatan yang berada di perbatasan Kecamatan Salam dan Kecamatan Ngluwar tidak bisa dilewati karena sudah tertutup material vulkanik.”
Hingga semalam petugas Tim SAR Kabupaten Magelang masih melakukan proses evakuasi ratusan warga. Suhardi, ketua RT 13, RW 5, Kampung Sayidan, Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan mengatakan, hampir semua rumah di bantaran Sungai Code tergenang air. ”Jumlahnya mencapai puluhan rumah,” katanya.
Hingga semalam, kata dia, sejumlah warga masih mengungsi di Balai RK setempat dan rumah warga yang dianggap aman. ”Beberapa orang ronda di sepanjang Sungai Code. Sedangkan lainnya menguras air yang masuk ke rumahnya,” jelasnya.
Dia mengatakan, kondisi paling parah terjadi di Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Tukangan, Kelurahan Tukangan, Beji Kelurahan Pakualaman, Ratmakan, Kelurahan Ngupasan, Sayidan, Prawirodirejan, Kelurahan Prawirodirjan, Parakan Kelurahan Mergangsan.
Ada sebuah rumah di Nitikan, Umbulharjo yang roboh akibat diterjang banjir. Suhardi mengatakan, hingga pukul 22.00 ketinggian air di Sungai Code masih setinggi talud. ”Jalan di bantaran Sungai Code di kampung kami ada yang rusak karena tidak kuat menahan terjangan air sungai,” katanya.
Jalan Tertutup
Sementara itu, luapan material vulkanik dari Kali Putih sampai di Jalan Magelang-Yogyakarta. Material itu menutupi jalan setebal 1,5 meter dengan panjang sekitar 500 meter sehingga jalur Magelang-Yogyakarta terpaksa dialihkan.
Petugas SAR dan Polres Magelang yang mendapatkan informasi dari Pos Pengamatan Merapi Ngepos, Kecamatan Srumbung, Magelang, bahwa banjir sudah melewati Jalan Raya Magelang-Yogyakarta, tepatnya di KM 13, langsung menutup jalan dengan memasang tiga portal penghalang.
Meski demikian, ada beberapa pemakai jalan terutama kendaraan bermotor yang menerobos portal. Mereka ingin menyaksikan banjir.
Hingga berita ini diturunkan jalan masih dialihkan. Untuk jalur dari arah Magelang dialihkan dari depan kantor Polsek Muntilan berbelok kekanan menuju ke Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Magelang kemudian menuju ke Kecamatan Ngluwar dan kearah Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta.
Sebaliknya dari arah Yogyakarta menuju ke Magelang dialihkan dari Kecamatan Tempel, Sleman, Yogyakarta menuju ke arah Ngluwar dan masuk ke Kabupaten Magelang melalui Kalibawang.
Untuk membersihkan material banjir lahar dingin di Jalan Raya Magelang-Yogyakarta, petugas Bina Marga Jateng menurunkan lima alat berat, terdiri dari tiga eskavator dan dua alat berat jenis loder. (sgt,dtc-71)
Di antaranya, Kali Opak, Kali Boyong, Sungai Code, Sungai Winongo, Kali Mambu, Kali Gajahwong, dan Kali Putih.
Akibatnya, ratusan warga Kecamatan Salam dan Kecamatan Ngluwar,
Kabupaten Magelang yang berada di bantaran Kali Puti dan warga di bantaran Sungai Code terpaksa mengungsi. Tanggul Kali Putih di Desa Sirahan dan Desa Seloboro jebol akibat diterjang lahar dingin. Luapan air dan material lahar dingin masuk ke rumah mereka yang berada di sepanjang bantaran Kali Putih.
Yunan Fanani (52), perangkat Desa Seloboro mengatakan, sebanyak 118 jiwa dari 36 keluarga di Desa Seloboro terpaksa diungsikan ke SD Negeri Seloboro 1, Kecamatan Salam. ”Dua jembatan yang berada di perbatasan Kecamatan Salam dan Kecamatan Ngluwar tidak bisa dilewati karena sudah tertutup material vulkanik.”
Hingga semalam petugas Tim SAR Kabupaten Magelang masih melakukan proses evakuasi ratusan warga. Suhardi, ketua RT 13, RW 5, Kampung Sayidan, Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan mengatakan, hampir semua rumah di bantaran Sungai Code tergenang air. ”Jumlahnya mencapai puluhan rumah,” katanya.
Hingga semalam, kata dia, sejumlah warga masih mengungsi di Balai RK setempat dan rumah warga yang dianggap aman. ”Beberapa orang ronda di sepanjang Sungai Code. Sedangkan lainnya menguras air yang masuk ke rumahnya,” jelasnya.
Dia mengatakan, kondisi paling parah terjadi di Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Tukangan, Kelurahan Tukangan, Beji Kelurahan Pakualaman, Ratmakan, Kelurahan Ngupasan, Sayidan, Prawirodirejan, Kelurahan Prawirodirjan, Parakan Kelurahan Mergangsan.
Ada sebuah rumah di Nitikan, Umbulharjo yang roboh akibat diterjang banjir. Suhardi mengatakan, hingga pukul 22.00 ketinggian air di Sungai Code masih setinggi talud. ”Jalan di bantaran Sungai Code di kampung kami ada yang rusak karena tidak kuat menahan terjangan air sungai,” katanya.
Jalan Tertutup
Sementara itu, luapan material vulkanik dari Kali Putih sampai di Jalan Magelang-Yogyakarta. Material itu menutupi jalan setebal 1,5 meter dengan panjang sekitar 500 meter sehingga jalur Magelang-Yogyakarta terpaksa dialihkan.
Petugas SAR dan Polres Magelang yang mendapatkan informasi dari Pos Pengamatan Merapi Ngepos, Kecamatan Srumbung, Magelang, bahwa banjir sudah melewati Jalan Raya Magelang-Yogyakarta, tepatnya di KM 13, langsung menutup jalan dengan memasang tiga portal penghalang.
Meski demikian, ada beberapa pemakai jalan terutama kendaraan bermotor yang menerobos portal. Mereka ingin menyaksikan banjir.
Hingga berita ini diturunkan jalan masih dialihkan. Untuk jalur dari arah Magelang dialihkan dari depan kantor Polsek Muntilan berbelok kekanan menuju ke Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Magelang kemudian menuju ke Kecamatan Ngluwar dan kearah Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta.
Sebaliknya dari arah Yogyakarta menuju ke Magelang dialihkan dari Kecamatan Tempel, Sleman, Yogyakarta menuju ke arah Ngluwar dan masuk ke Kabupaten Magelang melalui Kalibawang.
Untuk membersihkan material banjir lahar dingin di Jalan Raya Magelang-Yogyakarta, petugas Bina Marga Jateng menurunkan lima alat berat, terdiri dari tiga eskavator dan dua alat berat jenis loder. (sgt,dtc-71)
Banjir Lahar Dingin Tutup Jalur Magelang-Yogya
20 03 2011
Magelang – Banjir lahar dingin kembali menerjang Kali Putih di Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Material vulkanik banjir lahar dingin sampai meluap dan menutupi jalur Magelang-Yogyakarta.Material lahar dingin yang membungkus jalan setebal 1.5 meter dengan panjang 500 hingga 600 meter, membuat jalur Magelang menuju Yogyakarta dialihkan.
Dari pantauan detikcom Sabtu(18/3/2011), sejak pukul 16.45 WIB terjadi hujan deras di kawasan puncak Gunung Merapi. Akibatnya, tiga di antara 12 alur sungai di Merapi terjadi banjir lahar dingin.
“Tiga sungai itu adalah Kali Putih, Kali Opak dan Kali Boyong yang paling besar mengalami banjir lahar dingin,” kata Yusuf warga Desa Jumoyo, Kecamatan Salam kepada detikcom.
Hujan deras yang turun semakin menambah peningkatan debit air di ketiga alur sungai, terutama di alur Kali Putih sehingga banjir lahar dingin semakin membesar.
Setelah mendapatkan informasi dari Pos Pengamatan Merapi Ngepos, Kecamatan Srumbung, Magelang bahwa kepala banjir sudah lewat Jalan Raya Magelang-Yogya tepatnya di KM 13, maka petugas SAR dan kepolisian Polres Magelang langsung melakukan penutupan dengan memasang tiga portal penghalang. Namun masih ada beberapa pemakai jalan terutama kendaraan bermotor ingin menerobos portal karena ingin menyaksikan kepala banjir yang lewat.
Setelah sekitar 15 menit kemudian, kepala banjir yang membawa material vulkanik berupa batu, pasir, lumpur dan puing-puing kayu kecil hingga besar melewati jemabatan Kali Putih dan sebagian material banjir meluap.
Sampai saat ini, jalan Raya Magelang-Yogyakarta masih dialihkan. Untuk jalur dari arah Magelang dialihkan dari depan kantor Polsek Muntilan berbelok kekanan menuju ke Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Magelang kemudian menuju ke Kecamatan Ngluwar dan kearah Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta.
Sebaliknya dari arah Yogyakarta menuju ke Magelang dialihkan dari
Kecamatan Tempel, Sleman, Yogyakarta menuju kea rah Ngluwar dan masuk ke Kabupaten Magelang melalui Kalibawang.
Lima alat berat, yang terdiri dari tiga eskavator dan dua alat berat jenis loder mulai diturunkan oleh petugas Bina Marga Jawa Tengah untuk membersihkan material banjir lahar dingin yang menyelimuti jalan Raya Magelang-Yogyakarta.
(fiq/fiq)
sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/03/19/211055/1596565/10/banjir-lahar-dingin-tutup-jalur-magelang-yogya?n991102605
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kaitkata: air, irigasi, jalan, kalibawang, kulon progo, lahar, macet, merapi, yogyakarta, yulee
Kategori : Berita luar
Jalur Magelang-Yogya Lancar
6 03 2011
Sejumlah wisatawan berwisata di kawasan erupsi Gunung Merapi, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta (ANTARA/Noveradika
Hingga sekitar pukul 09.30 WIB tidak terjadi antrean panjang dan kemacetan berbagai jenis kendaraan bermotor di ruas jalan utama Magelang-Yogyakarta itu.
Pengemudi berbagai kendaraan yang melintasi Desa Jumoyo tampak mengurangi kecepatan untuk melihat situasi terakhir pascabanjir lahar dingin di Kali Putih.
Banjir lahar dingin susulan melalui Kali Putih di Desa Jumoyo pada Jumat (4/3) sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 mengakibatkan material pasir menutup ruas jalan itu hingga beberapa puluh meter dengan ketinggian antara 50 centimeter hingga 1,5 meter.
Petugas dengan menggunakan sejumlah “backhoe” bekerja keras menyingkirkan material pasir dan batu dari tengah jalan itu.
“Tadi pagi sekitar pukul 04.00 WIB, jalan raya dibuka lagi untuk arus lalu lintas,” kata relawan penanganan banjir lahar dingin Merapi, Muslim.
Selama penutupan jalan itu, arus lalu lintas berbagai kendaraan dialihkan melalui jalur alternatif antara lain melalui Ngluwar, Kalibawang, dan Purworejo.
Hingga Sabtu pagi, di kawasan Kali Putih di Desa Jumoyo tampak cukup banyak warga menyaksikan kondisi pascabanjir lahar dingin susulan Jumat (4/3).
Puluhan pedagang makanan dan minuman juga menjajakan dagangan mereka di sekitar sungai itu.
Para petugas dengan sedikitnya empat back hoe bekerja menormalisasi alur sungai setempat, sedangkan puluhan warga lainnya tampak menggunakan “slenggrong” menaikkan pasir dari tepi jalan raya itu ke sejumlah truk di beberapa tempat.
Seorang warga Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Suparmo (56), mengaku, pada Jumat (4/3) sekitar pukul 23.00 WIB tiba di rumahnya setelah perjalanan dari Yogyakarta pukul 19.00 WIB.
Banjir Lahar Dingin, Jalur Yogya-Magelang Putus Lagi
Banjir lahar dingin terjadi lagi di 5 sungai kawasan Puncak Merapi. Akibatnya, material lahar dingin ini menumpuk di Jalan Raya Magelang-Yogyakarta sehingga ruas jalan itu, lagi-lagi ditutup.Banjir lahar dingin ini terjadi di 5 sungai yang mengalir dari puncak Gunung Merapi. Termasuk banjir yang terbesar di antaranya di Kali Putih, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah.
Bahkan material banjir lahar dingin yang berupa batu pasir dan lumpur serta puing-puing kayu, menyelimuti Jalan Raya Magelang-Yogya Km 23 sepanjang kurang lebih 75 meter. Dan ketinggian material yang menimbun jalan ini kurang lebih 1-1,5 meter.
Akibatnya, Jalan Raya Magelang-Yogya ditutup dan lalu lintas dialihkan. Dari Magelang dialihkan melalui jalur Kecamatan Muntilan menuju ke Desa Gunung Pring, kemudian menuju ke Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.
Dari Yogya dialihkan ke Desa Tempel, Kabupaten Sleman menuju ke Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta.
Menurut Subur (45), warga Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang, hujan turun sekitar pukul 16.00 WIB di kawasan puncak Merapi. Yang banjir di antaranya Kali Krapyak, Kali Senowo, Kali Putih, Kali Apu dan Kali Lamat.
Sekitar pukul 16.45 WIB banjir lahar dingin terbesar menerjang di Kali Putih, mengakibatkan material meluap di sepanjang Jalan Raya Magelang-Yogya.
Pantauan detikcom hingga pukul 18.15 WIB penutupan jalan dilakukan dengan memasang 3 portal. Pertama di depan SPBU Gulon, kedua di Pertigaan Margosuko dan ketiga di depan Polsek Muntilan Magelang.
Ratusan warga masih antusias untuk menyaksikan terjadinya banjir walaupun hujan gerimis sampai saat ini masih terjadi. Beberapa warga yang melihat sampai berteduh di rumah-rumah dan pertokoan warga sepanjang Jalan Raya Magelang-Yogya.
Alat berat pun sampai saat ini belum diturunkan untuk membersihkan material. Kondisi listrik di sepanjang Jalan Raya Magelang-Yogya dalam kondisi padam.
Yogyakarta – Ruas jalan raya Yogyakarta-Magelang masih tertimbun material banjir lahar dingin Gunung Merapi yang meluap dari Kali Puti. Arus lalu lintas antara dua kota tersebut terpaksa dialihkan hingga 15km lebih jauh dibanding jalur normal.
Berdasarkan pantauan reporter detikcom di Tempel, Sleman, Senin (10/1/2011), sebagian besar mobil pribadi, bis umum dan truk memilih melewati wilayah Ngluwar bila akan menuju Magelang atau Semarang. Sementara dari perbatasan Yogya-Magelang, di simpang tiga Semen Kecamatan Salam, aparat Polres Magelang memerintahkan pengguna jalan untuk berbelok ke kiri menuju Ngluwar.
Di tempat itu petugas bersama warga sekitar memberitahukan bahwa jalur Yogyakarta-Magelang tepatnya di Dusun Gempol, Jumoyo, Salam masih ditutup akibat tertimbun lahar dingin. Namun banyak warga sekitar yang menggunakan sepeda motor tetap nekat menerobos jalur menuju Dusun Gempol yang saat ini masih tertutup.
Di sepanjang jalan di Ngluwar, warga sudah memasang tanda arah baik menuju Yogya atau Magelang. Bila hendak menuju Muntilan atau Magelang, rute yang ditempuh harus melalui Desa Jamus Kauman Ngluwar.
Adanya pengalihan jalan itu mengakibatkan jarak tempuh semakin jauh. Jarak dari Yogyakarta menuju Muntilan-Magelang yang berjarak 25 km biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit, saat bisa mencapai satu jam.
“Saya harus memutar jauh sekali lebih dari 15 kilometer dari Muntilan menuju Yogya. Sejak dari Muntilan sudah diminta memutar agar lewat Ngluwar atau Kalibawang. Satu jam perjalanan baru sampai Ngluwar,” kata Sunaryadi seorang pedagang sayur dari Magelang kepada detikcom di jembatan timbang Salam, Magelang.
Sedangkan di simpang empat Tempel di dekat perbatasan, beberapa anggota Polres Sleman memberikan informasi mengenai masih terputusnya jalur Yogya-Magelang. Polisi meminta pengguna jalan untuk memutar melewati wilayah Ngluwar dan Kalibawang bila hendak menuju Magelang dan Wonosobo.
akibat-banjir-lahar-dingin-jalur-yogya-magelang-dialihkan
Berdasarkan pantauan reporter detikcom di Tempel, Sleman, Senin (10/1/2011), sebagian besar mobil pribadi, bis umum dan truk memilih melewati wilayah Ngluwar bila akan menuju Magelang atau Semarang. Sementara dari perbatasan Yogya-Magelang, di simpang tiga Semen Kecamatan Salam, aparat Polres Magelang memerintahkan pengguna jalan untuk berbelok ke kiri menuju Ngluwar.
Di tempat itu petugas bersama warga sekitar memberitahukan bahwa jalur Yogyakarta-Magelang tepatnya di Dusun Gempol, Jumoyo, Salam masih ditutup akibat tertimbun lahar dingin. Namun banyak warga sekitar yang menggunakan sepeda motor tetap nekat menerobos jalur menuju Dusun Gempol yang saat ini masih tertutup.
Di sepanjang jalan di Ngluwar, warga sudah memasang tanda arah baik menuju Yogya atau Magelang. Bila hendak menuju Muntilan atau Magelang, rute yang ditempuh harus melalui Desa Jamus Kauman Ngluwar.
Adanya pengalihan jalan itu mengakibatkan jarak tempuh semakin jauh. Jarak dari Yogyakarta menuju Muntilan-Magelang yang berjarak 25 km biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit, saat bisa mencapai satu jam.
“Saya harus memutar jauh sekali lebih dari 15 kilometer dari Muntilan menuju Yogya. Sejak dari Muntilan sudah diminta memutar agar lewat Ngluwar atau Kalibawang. Satu jam perjalanan baru sampai Ngluwar,” kata Sunaryadi seorang pedagang sayur dari Magelang kepada detikcom di jembatan timbang Salam, Magelang.
Sedangkan di simpang empat Tempel di dekat perbatasan, beberapa anggota Polres Sleman memberikan informasi mengenai masih terputusnya jalur Yogya-Magelang. Polisi meminta pengguna jalan untuk memutar melewati wilayah Ngluwar dan Kalibawang bila hendak menuju Magelang dan Wonosobo.
akibat-banjir-lahar-dingin-jalur-yogya-magelang-dialihkan
LAGI, MATERIAL MERAPI SUMBAT SELOKAN KALIBAWANG
Kulon Progo, CyberNews. Setelah selesai pengerukan material Merapi, intake irigasi Selokan Kalibawang kembali tersumbat endapan lahar dingin. Akibatnya kebutuhan air untuk ribuan hektare lahan pertanian di wilayah Kulon Progo kembali terhambat. Menurut Staf Bagian Perencanaan Balai Besar Serayu Opak (BBSO), Kasdi, Kamis (2/11), saluran irigasi itu baru dibuka sekitar sembilan jam setelah proses pengerukan pascaerupsi Merapi. Namun banjir lumpur material Merapi kembali menyumbat. Penanggungjawab alat berat dalam proyek pengerukan sedimen, Baryadi, mengatakan, akibat ketebalan sendimen di saluran intake tersebut, satu unit pintu air pengurasan tertutup dan tidak berfungsi. Menurutnya, setidaknya dibutuhkan waktu dua hari untuk membersihkan sedimen dari selokan agar bisa normal kembali. Terpisah, Kabid Pengairan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kulon Progo, Agus Wikanto, mengatakan, irigasi Selokan Kalibawang memasok air untuk lahan pertanian di 11 dari 12 kecamatan yang ada di Kulon Progo. Meliputi lahan seluas sekitar 7.152 hektare (ha) di daerah irigasi Kalibawang I dan II, Papah, Pengasih barat dan timur, serta daerah irigasi Pekik Jamal. Satu-satunya kecamatan yang tidak tercakup hanya Kecamatan Galur. “Dengan kondisi seperti ini, untuk mengairi lahan pertanian di wilayah Kecamatan Wates, Temon, Panjatan, dan Pengasih untuk sementara disuplai dari Waduk Sermo. Sedangkan wilayah utara yang tidak terjangkau hanya mengandalkan air hujan,” jelasnya./Lagi-Material-Merapi-Sumbat-Selokan-KalibawangDesa Banjaroyo Yogyakarta Lumpuh
, KULON PROGO–Kondisi Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, sekarang ini dalam kondisi lumpuh total karena terkena dampak letusan Gunung Merapi, Jumat (5/11) dini hari, kata Kepala Desa Banjaroyo Wiwin Windarto.Di depan peserta rapat koordinasi jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, di Wates, Sabtu (6/11), mengatakan meskipun Desa Banjaroyo cukup jauh jaraknya dari puncak Merapi, namun karena diguyur hujan abu dan pasir maka kondisinya menyerupai Dusun Kinahrejo, Kabupaten Sleman yang luluh lantak akibat terjangan awan panas Gunung Merapi.
“Desa Banjaroyo diibaratkan menjadi Kinahrejo kedua, semula merupakan objek wisata alam yang bagus dan indah kini sudah hancur, banyak pohon yang tumbang dan listrik juga padam. Jaringan listrik putus. Kami minta perhatian PLN untuk segera memperbaiki sehingga kondisi Banjaroyo kembali terang lagi,” katanya.
Ia menuturkan, Desa Banjaroyo selain hujan abu juga hujan pasir dengan ketebalan antara tiga hingga lima centimeter. Kondisi kebutuhan air bersih juga minim. “Air sungai keruh, padahal di Desa Banjaroyo tidak memiliki mata air yang jernih. Kami mohon perhatian semua pihak, supaya warga Desa Banjaroyo menjadi pengungsi juga,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, kondisi perkebunanan, pertanian dan kehutanan juga rusak akibat kena dampak awan panas Gunung Merapi. “Dalam dua hingga tiga tahun kedepan diperkirakan petani di Desa Banjaroyo tidak bisa memanen buah durian Menoreh yang menjadi kebanggaan dan unggulan Kulon Progo. Selain itu, penderes gula kelapa juga tidak bisa melaksanakan kegiatan ekonominya selama tiga bulan karena pohon kelapa juga ikut rusak,” katanya.
Ia mengatakan, jumlah penduduk Desa Banjaroyo mencapai 10.000 jiwa, tapi yang mendapat bantuan masker hanya berjumlah 300 jiwa. “Kami tidak ingin mengeluh kepada pemkab Kulon Progo, tapi kami juga memohon perhatian supaya dapat ditangani bersama dan aktivitas ekonomi masyarakat kembali seperti semula,” katanya.
Sementara, Bupati Kulon Progo, Toyo Santoso Dipo meminta Dinas Kesehatan Kulon Progo untuk memenuhi pengadaan masker dalam jumlah banyak untuk segera dibagikan kepada warga. “Kalau masker dari Dinkes belum ada, beli masker terlebih dahulu dengan kas desa dengan catatan kwitansi harus ada untuk laporan pertanggungjawaban,” katanya.desa-banjaroyo-yogyakarta-lumpuh

No comments:
Post a Comment